Kopilogi
Responsive Banner design

Om Kurir Parepare


Jasa pengiriman dan pengantaran (baca: delivery) paket lagi di puncak kejayaannya. Dampak pandemi Covid-19 membuat banyak orang enggan keluar rumah. Maka menggunakan jasa kurir menjadi salah satu solusi. 

Di Parepare juga sudah mulai menjamur jasa kurir. Tarif murah ditawarkan dengan gencar. Namun sayang, mudah dan murah ternyata jadi mata pisau bagi kurir. 

Tarif murah memang menguntungkan bagi konsumen. Pesan apa saja tidak takut kantong jebol. Sebaliknya, ongkir yang kelewat miring menjadikan kurir ibarat sapi perah. 

Pembagian hasil yang tidak rata berdampak serius pada pendapatan kurir. Maka, semakin murah tarif layanan, makin sedikit pula yang didapat kurir. 

Om Kurir Parepare hadir memberi solusi. Layanan terjangkau bagi konsumen dan tetap layak bagi para kurir. Kemudahan pemesanan lewat aplikasi pesan instan Whatsapp. 

Follow juga akun Instagram Om Kurir di @omkurir_parepare atau hubungi langsung nomor 0857-5692-6421! 

Om Kurir Parepare "Your Delivery Partner"


Gogoso Mama Hendar



Gogos merupakan kudapan tradisional yang banyak digemari masyarakat di Sulawesi Selatan. Di Enrekang, gogos sendiri akrab disebut gogoso. 

Makanan ini terbuat dari beras ketan. Jika diperhatikan sekilas, mirip lemper yang populer di tanah Jawa. Namun, tidak seperti lemper yang biasa terdapat isian di dalamnya, gogoso hanya berisi ketan hitam saja yang dibungkus daun pisang, dengan bentuk bulat memanjang lalu dibakar di atas arang. Kadang juga, gogoso diisi kelapa yang sudah disangrai. 

Di Enrekang, gogoso bisa ditemukan di pasar-pasar. Meski demikian, makanan ini tidak lagi sepopuler dulu. Bahkan, semakin sulit ditemukan. 

Misalnya, dikawasan fasilitas publik seperti SWISS (Sekitar Wilayah Sungai Saddang), penjual gogoso tidak akan banyak ditemukan. Hanya Mama Hendar -begitu ia disapa- penjual gogoso satu-satunya. Letak warungnya persis di ujung jembatan Sungai Mata Allo. 

"Saya sudah berjualan di sini sejak jembatan ini baru dibangun. Kurang lebih sepuluh tahun", terangnya. 

Sekilas, tidak ada yang khas dengan gogoso Mama Hendar. Sama saja dengan kebanyakan gogoso yang ditemui di pasar-pasar. 

Tapi, ada kisah tersendiri yang mungkin menginspirasi banyak orang. Dari hasil berjualan gogoso, dua orang anaknya dibiayai kuliah hingga lulus dan bekerja. 

"Saya cuma berjualan gogoso dek, tapi Alhamdulillah selesai ji kuliah dua anakku. Satu orang perempuan sekarang jadi perawat dan bekerja di sebuah rumah sakit di Makassar." Ujar wanita paruh baya itu dengan bangga. 

Ia mengaku, anak-anak mereka rutin mengirimkan uang. Malah, diakuinya bahwa semua itu lebih dari yang ia perlukan. Orangtua ini sudah bersyukur anak-anaknya bisa sukses dan bekerja. 

"Kalau bapak bekerja di kantor PU. Sekarang, gaji yang diterima sudah cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Tidak seperti waktu masih berjuang membiayai pendidikan anak-anak", tambahnya. 

Mama Hendar mungkin tidak tahu sampai kapan ia akan berjualan gogoso. Diakuinya, pembeli gogoso masih ramai di hari-hari libur. Para pejalan kaki yang datang menikmati pemandangan di SWISS kerap singgah menikmati kudapan bikinannya. Ada juga yang datang membeli untuk dinikmati di rumah. Itulah yang mungkin membuat Mama Hendar masih betah berjualan gogoso. Bahagia melakukan sesuatu meskipun sederhana di mata orang-orang. 

RINDU (Sebuah Puisi)





Katakan, aku harus apa?
Merayumu sampai habis kata-kataku?

Atau...,
Men-diam-kanmu, lalu diam-diam mencintaimu?

Ah, aku kalah!
Baru jatuh cinta saja sudah payah

Bolehkah kelopak mata itu kubisiki saja?
Agar kutahu berapa kali ia tak berkedip kala menatapku

Atau, kuhitung saja degup jantungmu kala tersipu?
Atau kuucap salam perpisahan agar kau mencegatku?

Atau..
Aku menghilang, dan kau panggil aku...rindu

Kita Semua Bucin!




Lagi, notifikasi pesan whatsapp di ponsel saya muncul. Pesannya sama seperti kemarin. Candaan garing namun akrab. Saya suka hal-hal semacam ini. Meski, kerap membukanya di waktu-waktu istirahat. Alasannya, saya ingin tertawa sepuas-puasnya demi melepas lelah.

Saya bilang itu garing sebab hal yang tiap hari dikonsumsi tak bisa lagi dianggap empuk. Garing bukan berarti tak bisa dimakan, kan? Malah garing tetap bisa bikin kenyang.

BUCIN adalah kegaringan yang selalu bikin saya kenyang kala menatap layar ponsel. Sebagian lainnya mungkin anggap itu berlebihan, keterlaluan dan kurang kerjaan. Buang-buang kuota internet. Tapi kok saya bahagia, ya?

Akhir-akhir ini "bucin" menjadi frasa yang digunakan untuk menyapa seseorang. Tidak hanya itu, kadang "bucin" menjadi semacam kata kunci agar bisa masuk dan diterima di lingkungan sosial atau pertemanan.

Bucin alias budak cinta adalah sebuah bentuk kepatuhan dan kesetiaan. Siapa yang tidak pernah merasa bucin , boleh jadi tidak pernah berbahagia ataupun membahagiakan. Itu pendapat saya. Bagi yang berbeda pandang, tabe, silakan!

Lagipula, "bucin", yang tak masuk Kamus Besar Bahasa Indonesia artinya membebaskan masyarakat Indonesia memiliki tafsiran sendiri sesuai selera. Bukan lagi "Budak Cinta" yang terdengar alay dan lebay.

Bagi saya, dalam sebuah kelompok,  penting untuk tetap menjaga kedinamisan. Alasannya, setiap kelompok punya ritme dan pola yang berbeda. Jenuh dan bosan menjadi hal wajar. Siapapun yang mengalami itu, tentu akan terkungkung dan berupaya mencari jalan keluar.

Tentu, tidak perlu jauh-jauh mencari jalan keluar. Sebagai makhluk sosial, kita punya banyak bekal untuk tetap bisa beradaptasi dan berkomunikasi dengan baik. Membuka diri dan menerima keadaan yang berubah setiap saat adalah salah satu solusinya.

Sebenarnya, kita lebih "bucin" dari orang-orang yang dianggap bucin dalam sebuah kelompok. Karenanya, "bucin" memang mesti disepakati menjadi kosa kata baru, sama seperti "ces", "bos q", "cika", "say", dan lainnya. Bahkan, saking bucin-nya, orang tua kita juga punya panggilan sayang, "papi" atau "mami".

Karenanya, penggunaan kata "bucin" untuk menyapa dan bercanda agar keakraban tetap bertahan menjadi penting dilakukan. Tujuannya, sekali lagi, untuk mengakrabkan diri. Bukan merendahkan.

Bergabung dalam sebuah kelompok, berarti menerima keberadaan sekaligus keberagaman perilaku setiap individu dalam kelompok tersebut. Semakin akrab pertemanan yang terjalin, semakin aneh pula perilaku dan sapaan yang diterima. Bukankah itu juga suatu kebahagiaan?

 Bagaimana, siap jadi BUCIN?

(Dari Kakak tingkatmu yg juga Bucin, wkwkwk)

Tiga puluh satu juta seratus empat ribu kali


Saya suka sekali membaca buku-buku motivasi. Ada untungnya juga,  selain membangkitkan semangat diri,  kisah-kisah inspiratif yang saya baca kerap saya bagikan ke orang-orang terdekat. Dan, efeknya luar biasa. Seperti virus, kisah itu menjangkiti pikiran mereka. Bahkan,  bersemayam di sana.

Selain buku,  tentu banyak pula artikel-artikel bergenre motivasi-inspirasi yang tersebar di dunia maya. Mereka -para penulis- juga ikut membagi kisah menarik agar semua pembaca bisa merasakan hal yang sama sekaligus memetik hikmah dari apa yang mereka bagikan.

Soal tiga juta seratus empat ribu kali itu bagaimana ceritanya?

Itu soal bagaimana meyakinkan diri untuk bisa berbuat lebih. Sebagai manusia,  kita sebenarnya punya kemampuan yang tak terbatas.  Hanya, kadang kala kita ragu soal kelebihan itu. Standar kita terhadap kemampuan diri sebatas persepsi kita terhadap diri sendiri. Padahal,  apa yang kita khawatirkan sebenarnya bukanlah hal yang sulit sebab setiap hari pun kita sanggup menjalani puluhan aktivitas berbeda tanpa disadari.

Kisah ini saya temukan di salah satu laman khusus berbagi motivasi. Adegan dialog antara tukang jam dengan jam buatannya kira-kira begini:

“Hai jam, sanggupkah kamu berdetak paling tidak 31.104.000 kali selama setahun?” tanya tukang jam memulai.

“Hah?,” jam terperanjat, “Mana mungkin saya sanggup ?”

“Bagaimana kalau 86.400 kali dalam sehari?”

“Delapan puluh enam ribu empat ratus kali? Dengan jarum yang ramping-ramping seperti ini?” jam menjawab dengan penuh keraguan.

“Bagaimana kalau 3.600 kali dalam satu jam?” tantang tukang jam.

“Dalam satu jam harus berdetak 3.600 kali? Itu masih terlalu banyak”, tetap saja jam ragu-ragu dengan kemampuan dirinya.

Dengan penuh kesabaran, Tukang jam itu kemudian bertanya lagi:
“Kalau begitu, sanggupkah kamu berdetak satu kali setiap detik?”

“Naaaah, kalau begitu, aku sanggup!” kata jam dengan penuh antusias.

Akhirnya setelah selesai dibuat, jam itu berdetak satu kali setiap detik. Hingga akhirnya tanpa terasa, detik demi detik pun terus berlalu. Apa yang terjadi sungguh diluar dugaan karena ternyata selama satu tahun penuh dia telah berdetak tanpa henti. Dan itu berarti ia telah berdetak sebanyak 31.104.000 kali.

Jam, pada awalnya ragu akan kemampuan dirinya. Ia begitu takut menghadapi hal-hal besar yang sebenarnya sangat mungkin dilakukan. Tanpa disadari, ia terus-menerus melakukan hal yang menurutnya ringan dan sepele meski pada akhirnya hasilnya sungguh luar biasa. Hal yang dianggap kecil tapi dilakukan terus menerus akan menghasilkan sesuatu yang besar dan menakjubkan.

Meski kisah ini fiktif, tentu bukan alasan untuk mengabaikan hikmahnya. Layaknya jam tadi,  manusia punya kemungkinan lebih besar untuk melakukan hal-hal besar dengan modal keyakinan diri serta kesanggupan untuk memulai dengan konsisten. Kalau toh tak sanggup melakukan gebrakan setiap detik, menit, atau jam,  paling tidak kita punya waktu 30 hari dalam sebulan untuk mengasah potensi diri sekaligus menemukan keajaiban-keajaban luar biasa yang dimiliki diri kita. Bagaimana? Siap menemukannya?

Lambusu'nu ji nutau!


Pukul 6.30 pagi saya sudah siap siap. Sejak beberapa bulan, tak pernah secepat ini. Maklum, hari ini saya punya tugas meliput kegiatan jalan santai yang diadakan kampus tempat saya kuliah. Pikir saya, sekalian ikut jadi peserta. Lumayan kalau beruntung bisa dapat sepeda.

Tak sampai lima menit, saya sudah berada di pelataran Patung Sapi, ruang publik yang jadi salah satu ikon Kota Enrekang. Di tempat ini, kegiatan bakal diadakan.

Sebenarnya, jalan sehat hanya satu diantara banyak agenda kegiatan yang diselenggarakan pihak kampus. Kegiatan ini masih bagian dari perayaan dies natalis yang ke 46-tahun.

Lima belas menit lebih berlalu. Belum muncul calon peserta jalan santai. Hanya ada tiga orang panitia yang terlihat beres-beres dan menyiapkan keperluan jalan santai.

Motor saya parkir di halaman perpusda yang letaknya di seberang jalan. Sembari menunggu acara dimulai, saya iseng saja membantu panitia. Menyiapkan sound system, check sound, dan lain-lain. Hanya beberapa menit, pekerjaan ringan itu selesai. Lepas itu, saya sibuk memutar-mutar lagu via youtube. Cari-cari lagu yang pas dengan momen kali ini.

Pukul 08.00 kegiatan jalan santai pun dimulai. Jadwal molor sekira satu jam. Tidak masalah, sudah biasa pikir saya. Panitia mengumumkan rute kali ini melewati pinggiran kota, melintasi kawasan wisata baru Swiss (Sekitaran Sungai Saddang) --begitu masyarakat di Enrekang menyebutnya-- memasuki kawasan pemukiman padat di jalan kemakmuran, dan berakhir di tempat keberangkatan tadi.

Saya yang jarang olahraga, cukup merasa penat kali ini. Meski sekedar hiburan dan jadi ajang silaturahmi dengan peserta yang kebanyakan mahasiswa, selembar kupon di tangan jelas jadi obat tersendiri.

Benar saja, momen yang ditunggu tunggu pun tiba. Pukul 09.30 pengumuman pemenang melalui undin dimulai. Semua mata tertuju pada nomor undian di tangan masing-masing.

Sebenarnya, saya tak pernah punya rekor yang baik dalam soal undian. Terhitung, seingat saya tiga kali dalam berbagai kesempatan, saya tak pernah bawa pulang hadiah. Tapi tentu bukan itu intinya. Saya hanya senang saja dengan suasana seperti ini.

Satu persatu nomor undian dikocok, diumumkan dan disambut riuh para pemenang. Anak-anak hingga dewasa silih berganti naik ke panggung mengambil hadiah, berfoto bersama. Saya masih tenang-tenang saja.

Cuaca pagi itu mulai panas dan memaksa saya bergeser mencari tempat yang teduh. Di sana, saya duduk bersama seorang dosen. Kaget juga melihat ia memegang lima lembar kupon.

Setelah basa basi bertanya, saya dibuat tertawa sebab belum satupun dari lembar kupon itu menang. Sang dosen tetap optimis. Seolah ingin disaksikan keberhasilannya, ia meminta saya memegang beberapa lembar kupon di tangannya.

"kalau saya dapat dua hadiah, kamu saya kasih satu" Janjinya.

Beberapa saat tahu lah saya, hanya sedikit peserta yang punya satu kupon termasuk saya. Kebanyakan lebih dari 2 kupon. Jika dihitung, peserta termasuk panitia yang hadir, paling banyak 200-an orang. Sementara menurut panitia, jumlah kupon sebelum kegiatan dimulai ada seribu lebih. Jadi, paling tidak jika dirata-ratakan, tiap peserta bisa dapat masing-masing 5 lembar kupon.

Rezeki di tangan Allah. Saya mencoba positif saja. Lagi pula, kalau tidak kebagian hadiah, tak perlu juga harus kecewa. Santuy, begitu bahasa gaul anak anak sekarang.

Puluhan hadiah menarik pun berpindah tangan. Dispenser, setrika listrik, penanak nasi, hingga handphone sudah menghilang dari panggung. Tersisa satu undian lagi dengan hadiah yang ditunggu tunggu. Sebuah sepeda berdiri gagah, menunggu siapa pengayuh abadinya.

Adegan seolah didramatisir sebab beberapa kali undian diumumkan, tak ada yang maju menjemput hadiah utama itu. Panitia dipaksa mengundi nomor lain yang berserakan di kotak undian yang terbuat dari kardus.

Dan pada akhirnya, setelah beberapa jam kepanasan menunggu, harapan seluruh peserta pun pupus. Iya, termasuk saya. Kecuali perempuan berkerudung yang dengan wajah sumringah berlari menuju panggung. Dia adalah seorang mahasiswi. Senyumnya meluluhlantakkan harapan kami. Tak ada lagi harapan meski pada akhirnya kekecewaan peserta justru dibarengi gelak tawa, lepas. Pelan pelan mereka bubar.

Pak dosen tadi, berbalik arah menuju tenda panitia,  berbaur dengan para dosen lain.
Sambil senyam-senyum, saya pun ikut beranjak dari lokasi acara. Menuju gerobak kopi yang ada di seberang jalan. Kebetulan juga, yang punya adalah kawan saya. 

Belum sampai di sana, panitia mengumumkan bahwa akan ada hadiah hiburan. Sebuab handphone.  Seperti mimpi saja, kupon yang tak sempat saya robek di tangan nomornya persis sama dengan yang diumumkan. Saya tertawa riang dan segera menjemput hadiahnya.

Sekarang. Setelah hadiah hampir di tangan, saya teringat Pak dosen. Maklum, kupon yang saya pegang dan lupa saya buang tadi adalah kupon beliau.

Tak tunggu lama, saya bergegas mencarinya. Alasannya, saya anggap kupon itu masih miliknya. Jadi, tentu hadiahnya bukan hak saya.

Setelah bertemu dan menjelaskan apa yang terjadi, dosen tersebut terlihat gembira. Hanya satu kata terakhir yang diucapnya.
"Terima kasih ya !" Itu saja.
Saya pun berlalu.

Di jalan, logika seakan menghakimi saya. Ini kekonyolan dan tentu saja tindakan bodoh. Di zaman apapun saya hidup, ini adalah keputusan tak masuk akal. Mestinya, saya tak perlu mencari dosen tersebut. Toh, ia takkan peduli dan tidak tahu nomor undiannya akan disebut. Bahkan, semua peserta pun tak peduli lagi. Mereka anggap kegiatan sudah selesai.

Benar saja, sesampai di gerobak kopi, saya mulai kena batunya. Kawan-kawan disana punya anggapan yang sama. Bedanya, untuk mengatakan saya memang bodoh, mereka cukup melayangkan tawa.

Saya hanya membalas senyuman mereka dengan menghibur diri atas keputusan yang sulit dan terlihat dilematis ini.

" Kalau mau kaya, jangan terlalu jujur. Lambusu'nu ji nutau!"* Saya membela diri.

Mereka lagi-lagi hanya bisa tertawa.

*Hanya dengan kejujuran, kita dianggap orang!

(Musdin)



(In) Toleransi? Selamat Berpikir!



Membahas toleransi secara detail bukan perkara mudah. Sebab saya bukanlah ahli agama, pegiat sosial, atau seorang fanatik. Saya tak punya kapasitas untuk menetapkan suatu keadaan atau peristiwa sebagai tindakan intoleran. Saya hanya meyakini bahwa toleransi muaranya kepada perilaku, bukan sekedar ngaku-ngaku.

Seperti pendapat Djohan Efendy, toleransi menurutnya adalah sikap menghargai terhadap kemajemukan. Tentunya, bukan hanya sekedar mengakui eksistensi dan hak-hak orang lain. Tapi, juga terlibat pada upaya mengetahui dan memahami adanya kemajemukan.

Entah sejak kapan isu intoleransi mengutak atik negeri ini. Apakah karena keragaman budaya dan agama sehingga praktik dan paham  yang tidak toleran mudah menjamur? Sangat menyedihkan bila agama yang punya nilai sakral, pengikutnya sengaja diadu domba satu dengan yang lain. Kita tahu, isu agama sangat mudah menyulut api pertikaian.

Lebih celakanya, isu-isu semacam ini justru digoreng dan dipertontonkan di ranah publik. Para tokoh yang ngaku "paham" agama membuat dalil dan definisi sendiri. Seolah, tidak ada lagi tempat untuk ber-Bhinneka Tunggal Ika di negeri ini. Padahal jauh di pelosok yang kurang disentuh media, masyarakat tak begitu tahu arti toleransi. Tapi sikap mereka, perilaku yang ditunjukkan, nilai yang diperlihatkan, jauh melampaui definisi toleransi.

Enrekang, daerah yang berbatasan langsung dengan Tana Toraja, punya banyak cerita yang tak habis dibagi bila mau bicara toleransi. Masyarakat Enrekang, khususnya wilayah yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Tana Toraja, telah lama hidup berdampingan dengan damai. Mesjid dan Gereja lumrah bersebelahan. Bahkan, ada banyak keluarga yang hidup serumah, dengan agama yang berbeda.

Hebatnya, agama bagi mereka bukan hal yang rendahan untuk jadi alasan tidak saling mengasihi. Agama, bukan pula barang mainan yang boleh dicampur aduk seenaknya hanya untuk melanggar nilai-nilai yang diyakini oleh para penghuni rumah.

Tana Toraja sendiri, dengan penduduk mayoritas beragama Kristen, mampu menunjukkan nilai toleransi tingkat tinggi. Sebagai contoh, tahun 2019, Kabupaten yang dikenal dengan sebutan Bumi Lakipadada ini menjadi tuan rumah Seleksi Tilawatil Qur'an dan Hadist (STQH) ke-31 tingkat Provinsi Sulawesi Selatan. Di Kota Makale, tempat digelarnya kegiatan, menjadi surga bagi keberagaman. Tak ada yang peduli soal isu-isu intoleransi.

Apa yang terjadi di sana (Tana Toraja) bukan hal remeh-temeh. Agama memang urusan privat bagi para pemeluknya, namun apakah sebagai muslim, peserta yang hadir akan berkompetisi di dalam gereja? Apakah selaku tuan rumah, kaum Nasrani wajib hadir dalam kegiatan untuk mendengarkan lantunan ayat suci Al-Quran demi menghargai tamu? Tentu saja tidak.

Setiap orang hendaknya menghargai dan menjaga kemerdekaan orang lain untuk menjalankan agamanya, demikian pandangan Cak Nun menyoal toleransi beragama. Banyak yang paham soal ini. Banyak pula yang buta definisi, tapi soal saling menghargai, tak perlu lagi diajari.

Beberapa tahun belakangan, soal semacam boleh tidaknya mengucapkan selamat hari raya bagi saudara kita yang Nasrani, menjadi kebisingan yang merusak akhir tahun. Bagi saya, yang memang tak pernah mengucapkannya, bukan karena tidak punya kesetiakawanan sosial. Lagi pula, saudara kita yang beda keyakinan, tak pernah menuntut diberi ucapan selamat, alih-alih kado.

Mari mulai berpikir. Daripada sibuk mengurusi keyakinan orang lain, mungkin lebih baik kita belajar mendalami agama kita sendiri. Ini lebih penting ketimbang sibuk bertengkar soal intoleransi yang tak kelihatan ujungnya di mana. Hal yang tidak kalah penting, bagaimana saudara kita beribadah di hari rayanya dengan suasana yang aman. Jauh dari kegaduhan dan tanpa gangguan. Selamat Berpikir!

(Musdin Musakkir)







Kenapa harus shalat?




Saya bukanlah orang yang taat beragama. Meski, beberapa tahun terakhir, shalat tak pernah saya tinggalkan. Lho, bukannya dengan shalat wajib lima kali sehari adalah ciri orang yang taat dalam beragama? Jawabannya, bagi saya belum tentu.

Betul bahwa dengan menegakkan shalat tidak akan begitu saja menjadikan kita sebagai orang saleh. Itu baru menjadikan kita muslim. Muslim yang seperti apa itu adalah pilihan. Apalagi jika shalat hanya sebagai penggugur kewajiban.

Apa alasan kita melaksanakan atau tidak melaksanakan shalat? Apakah iming-iming tiket ke surga mungkin? Atau neraka adalah mimpi buruk yang tak boleh jadi kenyataan? Apakah cukup dengan shalat beban di akhirat kelak menjadi ringan? Semua pertanyaan ini boleh saja jadi alasan. Tapi bagi beberapa orang yang saya temui, surga tak serta merta dirindukan, dan neraka masih jadi misteri, itu urusan nanti!

Seringkali, saat adzan berkumandang, muncul beban, keluh, dan kemalasan. Taat itu menyiksa diri. Tidak taat, menipu diri. Sedang, bagi saya yang memilih beragama, ya harus shalat. Lebih sering menunda-nunda, alih-alih mau berjamaah. Asal sujud sudah, selesai perkara.

Karena keseringan begitu, shalat tak pernah terasa nikmat. Singkat, cepat, pura-pura tobat. Tapi, ada hal yang buat saya terkesan. Titik dimana tak semua perkara boleh dijadikan mainan. Hari itu, di masjid yang tak terlalu besar itu, penceramah bilang begini " orang yang tidak mengerjakan shalat adalah orang yang sombong". Kalimat itu begitu menyengat, sangat.

Manusia dianugerahi akal pikiran. Setidaknya, selagi shalat ditunaikan pemberian itu berubah haluan. Dari suatu yang membanggakan, menjadi hal yang memalukan. Betapa tidak, sujud membuat bagian tubuh terhina kita (anus) lebih tinggi dari otak di kepala. Apalagi yang mesti disombongkan orang yang shalat? Pangkat, kedudukan, kecerdasan, kekayaan?

Maka, bagi saya di luar dalil agama, melepas kesombongan adalah kunci agar shalat tetap tegak. Diri kita diuji dengan kerelaan merapatkan kening dan menghamba. Keegoan tak punya tempat lagi ketika semuanya tumpah di lantai sujud. Apa lagi yang mau disombongkan?

Pernah pula, saya bertanya pada kawan, apa yang membuat ia masih enggan melaksanakan shalat. Tak ada maksud menggurui tentunya. " bukankah perilaku lebih penting diperbaiki terlebih dahulu ketimbang beribadah?" kira-kira demikian ia balik bertanya. Boleh pula disederhanakan begini " buat apa sholat kalau tingkah masih biadab?".

Waduh, kalau begitu maunya, saya tak pantas shalat dong? Dan tak akan memulai shalat? Apakah ada manusia yang bebas dari kehinaan dan kesalahan? Apakah umur bisa menjamin manusia berubah dan sempurna akhlaknya? Sementara kewajiban kita, lebih banyak dari umur yang ditetapkan, berapa tahun pun kita hidup tak akan cukup.

" sesungguhnya, shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar" begitu bunyi ayat-Nya. Jika sudah shalat kemudian tak ada perubahan, boleh jadi shalatnya belum sempurna. Perbaiki dan terus perbaiki. Alim ulama bilang begitu. Pada akhirnya, dengan pelan-pelan, kesalahan akan diganti dengan kesalehan.


(Musdin Musakkir)




"Matinya" Mahasiswa


Agen perubahan. Kontrol sosial. Generasi kritis. Inovatif. Peduli. Dan, banyak lagi kata yang malah membuat paradoks bagi mahasiswa itu sendiri. Aktif dalam ruang diskusi, bergelimang teori. Namun, dalam implementasi mereka "mati".

Matinya mahasiswa dipicu oleh sikap apatisme yang hadir justru ketika mahasiswa berani berteriak merdeka. Hanya, belakangan mahasiswa sadar, bahwa kata merdeka adalah ibarat mitos pedang terhunus para petarung bugis, " sekali terhunus, darah mesti tertumpah".

Apatisme menjadi benteng antara teori dan aksi. Dalam kehidupan mahasiswa di kampus, hal ini menjadi begitu nyata. Kebijakan pimpinan kampus, amburadulnya layanan akademik, ketidakpastian penyelesaian studi, buruknya sarana penunjang kegiatan belajar, dibalas dengan sikap dingin dengan alasan "cari aman".

Ada beberapa sebab "mati"nya mahasiswa di kampusnya sendiri. Pertama, merasa bahwa tugas mahasiswa sepenuhnya adalah belajar dan diskusi. Sehingga, kesan yang timbul adalah semua problem yang terjadi akan selesai dengan sendirinya. Pimpinan kampus dianggap adalah orang-orang yang pasti tahu cara menyelesaikan masalah dan tugasnya dengan baik. Mahasiswa, diminta belajar saja dengan giat, begitu kira-kira.

Sebab yang kedua, mahasiswa menganggap bahwa tunduk dan patuh dengan segala kebijakan pimpinan kampus merupakan sikap mahasiswa yang baik. Tidak kritis berarti taat. Dan, ketaatan akan serta merta mengantarkan pada kesuksesan. Padahal, kritik  dibangun untuk tidak membenarkan segala tindakan. Kritisme justru menuntut diberlakukannya tindakan yang ideal. Contoh, mendapatkan pelayanan akademik yang baik dari kampus adalah sesuatu yang ideal, sudah semestinya begitu. Sebaliknya, jika tidak baik, berarti tidak ideal. Ada yang salah.

Ketiga, ide dan gagasan yang cemerlang hanya akan menjadi sampah di kepala bila tak dilakukan. Parahnya, mahasiswa membiarkan itu terjadi begitu saja. Mereka mati rasa, kehilangan kekuatan untuk berbuat. Dalam hati kecil, mereka risih dengan peran yang disandang sebagai agen. Di sisi lain, mereka  gembira karena kawan-kawan seperjuangannya juga ikut-ikutan mati rasa. Pengetahuan adalah kekayaan, itu saja yang penting.

Keempat. Mahasiswa sulit bersatu. Maka, kebenaran adalah milik masing-masing individu. Kelompok-kelompok diskusi menjamur hanya untuk mendiskusikan keberlangsungan kelompoknya sendiri. Terkait kebijakan yang tidak pro terhadap kepentingan mahasiswa, bisa diatur. Padahal, kompromi terhadap kebijakan semena-mena kampus adalah pengkhiatan terhadap kepercayaan mahasiswa lainnya.

Terakhir. Ketakutan berlebih. Mahasiswa menganggap bahwa nilai akademik yang rendah adalah bencana. Maka, untuk menghindari bencana tersebut, sebaiknya jangan berurusan dengan yang empunya kampus. Juga, agar lebih disayang dosen atau staf, berhenti mengeluh soal pelayanan. Pokoknya, nikmati saja yang ada, segala kekurangan maklumi saja. Dengan bersikap demikian, mahasiswa tipe ini akan punya harapan menjadi mahasiswa teladan dan penjaga nama baik kampus. Terdengar individualis dan pragmatis.

Memang, menjadi mahasiswa tidaklah mudah. Harapan begitu banyak di pundak kita. Berani menjadi mahasiswa berarti berani untuk mati-matian aksi. Perlu pula dipahami, nilai konstruktif mahasiswa ada dalam kritik. Kritik juga mesti dilakukan dalam semua ruang. Bisa dilakukan dalam dialog, diskusi, demonstrasi, hingga korespondensi.

Mengakhiri tulisan ini, penulis menyinggung diri sendiri, bahwa bisunya mahasiswa, sama dengan mati. Ketidakpekaan terhadap suatu masalah pertanda tak punya rasa sebagaimana pengertian apathes dalam bahasa Yunani. Kalau sudah mati rasa, bukankah lebih baik sekalian mati saja?

(Musdin Musakkir)

Free Download KineMaster Mod .apk

Assalamu alaikum. Selamat datang di blog saya yang sangat sederhana ini.

Oke, sebelumnya saya minta maaf karena lama tidak posting sesuatu, baik itu berita, artikel, maupun hal-hal yang berbau viral gitu, hehe.
Nah, mumpung ada waktu, saya posting saja sesuatu yang lagi dicari-cari sama para youtuber, apalagi kalau bukan aplikasi video editor.

ebenarnya, banyak sekali aplikasi yang keren untuk mempercantik video kita sebelum diunggah ke medsos, tapi aplikasi yang satu ini sangat saya rekomendasikan. Mengapa? Karena selain gratis, aplikasi ini sangat mudah digunakan dan hampir cocok di semua smartphone android. Fitur-fiturnya juga tidak kalah mentereng pokoknya.

Aplikasi ini bernama KineMaster. Mudah dan tidak butuh waktu lama untuk mempelajari beberapa fitur utamanya. Langsung saya kasi saja deh. Berikut linknya. Gratis untuk kalian.


Selain link di atas, kalian juga bisa me-download langsung aplikasi resminya di Playstore. Hanya, untuk aplikasi resmi tersebut, ada beberapa fitur yang belum bisa digunakan seperti watermark atau tulisan " made with KineMaster" di pojok kanan atas video kita setelah diekspor. Tentu saja untuk menghapus tanda tersebut, kalian harus mengeluarkan biaya untuk upgrade ke versi pro, hehe. Bagaimana, pilih yang resmi tapi bayar, atau gratisan? Hehehe. 

Siapa Acak-acak Buku di Perpustakaan?



Bagi saya, Perpustakaan Umum Enrekang adalah wahana intelektual yang mengagumkan. Rumah setiap individu yang mencintai ilmu pengetahuan. Istana megah untuk para pencari kebenaran. Namun, segala macam penggambaran tentangnya menjadi tidak jelas akhir-akhir ini.

Saya dibuat kesal oleh penataan buku-buku di perpustakaan. Niat hati hendak menyelami sastra hingga ke dasar-dasarnya, justru saya malah sibuk bermain dengan gadget: asyik, tapi minim faedah. Apa iya, saya harus menata sendiri  susunan buku-buku yang berantakan tanpa membuat para pustakawan tersinggung? Itupun kalau punya waktu seharian di ruang baca. Dan, tentu saja tak boleh berharap digaji.

Setahu saya, pustakawan adalah orang yang paham seluk beluk pelayanan bagi pemustaka. Tahu alur masuk buku-buku (sirkulasi), penempatannya, dan ramah terhadap pengunjung. Namun sebagian pustakawan sepertinya tidak peduli dengan tugas dan tanggungjawab mereka. Yang terlihat hanyalah orang-orang kaku, lebih kaku daripada penjaga kompleks perumahan. Kebanyakan tidak peduli dengan kebutuhan para pemustaka. Menjengkelkan!




Saya begitu yakin petugas yang bersikap "dingin" itu tidak tahu soal karakteristik pemustaka yang mesti mereka layani. Adalah Septiyantono (2003) yang menawarkan cara menghadapi berbagai karakter pemustaka. Dari 10 poin yang ditawarkan, poin ke- 4 menjadi lebih spesifik ke saya sebagai pengunjung yang selalu ingin diberi pelayanan prima. Poin tersebut adalah: "apabila pengunjung banyak permintaan, dengarkan dan segera penuhi permintaannya serta minta maaf dan memberi alternatif lain apabila permintaan tidak tersedia".

Septiyantono akan sepakat bila wejangannya tersebut saya anggap sebagai: Inti pelayanan di perpustakaan. Dengan itu pula, para pustakawan harus menghadirkan suasana yang menggembirakan di ruang baca, tentu saja menata pustaka agar membuat pemustaka betah


Biasanya, setiap bulan para petugas di perpustakaan akan mengurut dan menata kembali posisi buku-buku sesuai klasifikasinya. Namun, letaknya malah tambah semrawut. Beberapa buku yang masih setia berada di raknya hanyalah buku-buku berat: filsafat, agama, ilmu hadis, dan lain sebagainya.

Saya jarang menemukan buku berada persis di rak sesuai klasifikasinya. Misal, sering buku novel nyebrang ke rak sejarah. Atau, buku psikologi nebeng di rak fiksi. Bukan main membingungkan.

Puncak kekesalan saya terhadap beberapa orang yang melayani para pemustaka adalah sikap mereka yang seolah tidak peduli dengan kenyamanan pengunjung (pemustaka). Mereka bercanda, ngobrol hal remeh temeh, tertawa lepas tanpa merasa berdosa telah mengganggu kenyamanan pengunjung. Saya yakin, pengunjung yang acuh dengan suara-suara bising tidak sedang "membaca". Sementara mereka yang hobi ribut-ribut itu bukanlah orang yang suka baca.

Meski kecewa, saya selalu berharap Perpustakaan Umum Enrekang dapat berbenah. Inovasi dan program sehebat apapun rasanya hambar jika pusat kegiatan literasi ini tidak menjadikan manajemen dan pelayanan sebagai prioritas. By the way, buku-buku terbaru karya Andrea Hirata kok menghilang (lagi) di rak-rak Fiksi? Hehehe

(Musdin Musakkir)






Unik ! Aplikasi Jodoh Untuk Sapi



Baru-baru ini muncul sebuah aplikasi unik yang khusus diperuntukkan bagi para peternak sapi. Aplikasi tersebut bernama Tudder, aplikasi kencan dan jodoh khusus sapi.

Dilansir dari viva.co.id yang mengutip dari Digital Journal, Minggu 17 Februari 2019, tujuan dari Tudder adalah membantu para peternak mencarikan pasangan untuk sapi mereka.

Melalui aplikasi ini, peternak bisa mencari sapi incaran, mencari yang sesuai berbasis foto dan data sapi incaran, kemudian memutuskan sapi mana yang cocok menjadi pasangan sapi milik peternak tersebut.


 
Aplikasi Tudder
Mereka mengklaim telah memiliki lebih dari 42 ribu data peternak di beberapa negara. Melalui data yang tertera di aplikasi, setidaknya para peternak tahu kualitas sapi yang diincar. Hanya saja belum diketahui negara mana saja yang sudah menggunakan aplikasi ini. (dd)

Download Panduan Skripsi STKIP Muhammadiyah Enrekang



Sebagai mahasiswa semester akhir, tentunya kita akan lebih banyak disibukkan dengan penyusunan skripsi sebagai salah satu syarat meraih gelar Sarjana. Meskipun di masing-masing perguruan tinggi format penulisan skripsinya berbeda-beda, namun tetap saja ada standardisasi yang berlaku untuk semua kampus atau perguruan tinggi. Nah, karena penulis saat ini menempuh pendidikan di STKIP Muhammadiyah Enrekang, maka tentu saja untuk memudahkan teman-teman agar dalam penulisan skripsinya tidak mengalami kendala, berikut ini saya siapkan link download panduan sripsinya. silakan langsung saja disedot teman-teman. Salam mahasiswa pengejar sarjana!


Oh, ya! Informasi tambahan nih, untuk panduan ini sendiri disusun dan dipublikasikan pada Januari 2018. Jadi, jika teman-teman menemukan referensi/panduan terbaru, jangan sungkan-sungkan untuk menginformasikan revisinya yah, terima kasih sebelumnya!

                             Download format Pdf

Tuhan Disuruh Jaga Unta?



“ Tanpa disadari, kita seringkali bersikap kurang ajar kepada Tuhan...”





Hal yang sering kita lakukan adalah membiarkan segala sesuatu terjadi bagaimanapun dampaknya nanti. Kita terlalu percaya bahwa Tuhan akan mengatur apa yang kita inginkan dengan sendirinya. Tuhan kita anggap sebagai pelayan yang akan mengerjakan seluruh kehendak kita. Parahnya, tidak jarang kita memaki dan marah saat hajat kita tidak dikabulkan-Nya. Sadar diri kah kita?

Percaya pada kehendak Tuhan yang terbaik atas usaha yang telah kita lakukan adalah salah satu dari pengertian tawakkal. Tawakkal berasal dari bahasa Arab “tawakkul” yang berarti menyerahkan atau mewakilkan. Sederhananya, dalam berusaha dan berjuang, sikap tawakkal adalah tumpuan terakhir, bukanlah dikatakan tawakkal jika sedari awal sudah berserah diri dan bergantung sepenuhnya terhadap ketentuan Tuhan tanpa merasa perlu untuk berbuat.


Semasa kecil, saya sering mendengar perdebatan di kalangan pemuda desa kami. Topik yang sering hangat diperbincangkan adalah mengenai takdir dan rezeki, tentu saja versi mereka masing –masing. Versi akal-akalan. Maksudnya, bila tidak masuk di akal, teori dapat dengan mudah dibantah. Soal takdir misalnya, ada yang bulat meyakini bahwa takdir itu murni pekerjaan Tuhan. Kita tak boleh ikut campur. Jika kita ditakdirkan sedari awal di alam roh bahwa kita akan menjadi penghuni neraka, maka tak perlu lagi kita sibuk menjalankan ibadah sesuai syariat, toh kita tetap akan menikmati kesengsaraan di akhirat kelak.

Ada lagi, yang satu ini terkait rezeki. Sekeras apapun usaha yang kita lakukan, banting tulang setiap hari, kalau rezeki sudah diatur oleh Tuhan, tetap tak akan membuat kita jadi orang kaya. Alhasil, dengan teori aneh ini mereka yakin bahwa apa yang dialami manusia adalah konspirasi Tuhan dan para malaikat. Tuhan dianggap pilih kasih soal konsep ini (rezeki). Dengan begitu, banyak yang bersikap pasrah karena sudah tidak punya harapan untuk hidup lebih baik lagi.

Tanpa disadari, kita seringkali bersikap kurang ajar kepada Tuhan Sang Pencipta. Apakah mungkin segala urusan kita dilepaskan begitu saja dengan dalih Tuhan itu serba bisa, termasuk bisa diatur? Segampang itu kah?

Diceritakan dalam sejarah, suatu ketika seorang sahabat di masa Rasulullah Muhammad SAW terlambat mengikuti salah berjamaah. Karena terburu-buru, ia langsung turun dari untanya dan segera ikut shalat berjamaah. Nabi yang mengetahui kejadian tersebut kemudian bertanya :

“ Mengapa tidak engkau ikat untamu terlebih dahulu?”
“ Saya menyerahkan segala urusannya kepada Allah (bertawakkal)”, jawab sahabat tersebut.
“ Ikat dulu untamu baru kemudian engkau bertawakkal kepada Allah”. Balas Nabi.

Dari kisah tersebut, tampak bahwa harus ada ikhtiar dahulu yang dilakukan baru kemudian memasrahkan diri pada takdir dan kehendak Ilahi. Bukan malah seolah menjadikan Tuhan seperti pelayan. Seorang khatib dalam suatu kesempatan saat khutbah Jumat mengatakan, jika perilaku kita seperti kisah sahabat di atas tadi, sederhananya, seperti kita menyuruh-nyuruh Tuhan. Masa Tuhan disuruh jaga unta? Astagfirullah!
***

Sumber rujukan arti tawakkal : www.sumberpengertian.co

Isu Disintegrasi Hantui Indonesia



Isu disintegrasi kembali mengancam Negara Kesatuan Republik Indonesia. Ancaman yang dimaksud adalah pemisahan diri rakyat papua khususnya Papua Barat melalui referendum. Adalah Pemimpin Organisasi Papua Merdeka (OPM) Benny Wenda, yang mengklaim telah menyerahkan petisi berisi 1,8 juta tanda tangan kepada ketua Badan HAM PBB, Michelle Bachelet, dikutip oleh viva.co.id yang  dilansir dari Channel News Asia, Senin 28 Januari 2019.

Dalam pernyataannya, Benny mengatakan satu-satunya cara untuk didengar adalah melalui petisi. Menurutnya, tidak adanya kebebasan berbicara dan berkumpul yang diperoleh oleh orang Papua Barat. Ia juga mengungkapkan situasi di wilayah Nduga yang sempat menjadi sorotan media nasional beberapa bulan lalu ke Bachelet. Benny mengaku, setidaknya 11 orang terbunuh sementara sebagian lainnya tewas saat berusaha melarikan diri dari pasukan militer Indonesia. Bahkan, sekitar 22 ribu orang lainnya terlantar, klaim pemimpin gerakan separatis di Provinsi Papua Barat itu.


Meski berhasil mengumpulkan jutaan tanda tangan dengan berat disebut mencapai 40 kilogram, upaya tersebut tak lantas dipercaya begitu saja oleh juru bicara Komando Daerah Militer Papua, Muhammad Aidi. Ia mengatakan tuduhan Benny Wenda tidak memiliki dasar.

"Dia tidak dapat menunjukkan bukti dari apa yang telah dia tuduh. Ini adalah gerakan Papua Merdeka yang membunuh warga sipil tak berdosa," ungkap Aidi seperti dimuat di laman viva.co.id.


Masalah HAM-kah? tanda tanya.

Disintegrasi adalah ancaman bagi sebuah negara kesatuan. Indonesia, dengan ragam budaya dan terdiri dari berbagai suku bangsa yang juga merupakan negara kesatuan, tentu harus menjaga keutuhan negaranya. Ancaman perpecahan (disintegrasi) dari wilayah-wilayah yang mengklaim tidak mendapatkan perhatian dalam menyatakan pendapat, berekpresi semakin hari semakin nampak. Mungkinkah Ibu Pertiwi kembali akan kehilangan anaknya?

Tidak dapat dipungkiri, kekayaan alam pulau Papua begitu melimpah. Namun, sebagian hasil pengelolaan kekayaan alam tersebut rupanya tidak dinikmati oleh orang-orang Papua. Tambang Emas terbesar di dunia (PT. Freeport) meski 51%  sahamnya telah dikuasai oleh Indonesia, tak tampak kegembiraan yang begitu nyata di mata masyarakat Papua. Tentu saja, karena sebagian besar karyawan di perusahaan tersebut bukan warga pribumi. Kesejahteraan masih samar-samar terlihat.

Masyarakat papua seperti yang disampaikan Benny Wenda, justru tidak mendapatkan hak dasar, yaitu kebebasan berbicara dan berkumpul. Padahal, isu tersebut tidak pantas ada di negara Demokrasi seperti Indonesia.  Mungkinkah isu lama ini akan diungkit kembali?

Wasiat La Tanro ( Aru Buttu)



“ Iko anang appoku, sikadedattakko,
Tassitajan kaliuloakko, sisala
Makale’ko sikabudaan karuekko,
sisala karuekko sikabuda makaleo’ko, iko to andi paandi-i
kalemu iko tokaka pakakai kalemu,
pakalabii inde tomatoammu, dau
kuanni anangngu : ‘tau asu’ atau
‘puapakotuu’.”

 ***
Entah apa yang membuat generasi sekarang sulit berkomunikasi dengan santun antar sesamanya. Umpatan dan makian silih berganti masuk dan keluar dari telinga kita. Tutur kata yang ramah seakan mahal harganya. Bahkan, umur tidak lagi menjadi batasan dimana yang kecil bisa berlaku semaunya dan yang tua merajalela. Bosan dengan cacian yang standar, kata-kata kasar kini mulai membawa-bawa nama makhluk lain diantara perdebatan. Makhluk itu bernama hewan.

Perbedaan budaya bukan alasan untuk menanggalkan tradisi saling menghargai sesama manusia. Budaya dan tradisi malah bisa memperkuat hubungan persaudaraan diantara dua suku yang berbeda. Apalagi bila yang berkomunikasi itu adalah dua individu dengan budaya yang sama. 

Dahulu kala, bahkan untuk mempererat jalinan persaudaraan antara budaya- budaya yang berbeda, raja-raja melakukan perjanjian sebagai pondasi untuk saling memuliakan satu sama lain. Selain itu, dengan perjanjian-perjanjian tersebut, generasi mereka dapat saling berbaur dan bekerjasama tanpa harus dibatasi oleh budaya dan aturan-aturan yang memberatkan.

Di masyarakat Kabupaten Enrekang pun demikian. Menurut sejarah, sekitar abad ke-14 M, 6 raja berkumpul di kampung Leoran, sekitar 4 kilometer dari Kota Enrekang. Mereka adalah Addatuang Sawitto, Puang Makale, Puang Baroko, Puang Taulan, Aru’ Belawa, dan Puang Letta. Pertemuan tersebut melahirkan kesepakatan dalam bentuk perjanjian bahwa enam raja tersebut “bersaudara”.


Awal Mula Penyematan Kata-Kata Kasar :

Puang Leoran ketika itu memelihara “Tau Asu” yakni mahkluk yang bagian kepala hingga perutnya berwujud manusia, sedang bagian perut hingga kakinya menyerupai anjing. Hingga kini masih saja ada masyarakat Enrekang ketika tidak mampu menahan amarahnya, akan mengucapkan kata-kata kasar dengan penuh luapan emosi. Memandang saudaranya sendiri sebagai binatang atau “tau asu” (manusia tapi memiliki sifat seperti anjing). Pada akhirnya, La Tanro P. Janggo Puang Kali Endekang (Aru Buttu), menurut catatan lontarak Enrekang, berwasiat:

“ Iko anang appoku, sikadedattakko,
Tassitajan kaliuloakko, sisala
Makale’ko sikabudaan karuekko,
sisala karuekko sikabuda makaleo’ko, iko to andi paandi-i
kalemu iko tokaka pakakai kalemu,
pakalabii inde tomatoammu, dau
kuanni anangngu : ‘tau asu’ atau
‘puapakotuu’.”

Artinya :
“ Wahai anak cucuku, agar kalian saling mengasihi, jangan menyimpan dendam dan dengki. Bila kalian bertengkar di waktu pagi, rukun kembali di waktu sore, bila kalian bertengkar di waktu sore, rukun kembali di waktu pagi. Yang adik tempatkan dirimu sebagai adik dan yang kakak tempatkan dirimu sebagai kakak. Dan jangan pernah lupa menghormati kedua orang tuamu. Pesanku yang terakhir, jangan mengatakan ‘anjing’ (tau asu) atau ‘tak ada gunamu’ (taen gunana te’pea) kepada anak-anakmu dan keturunanmu”

Sumber referensi :  Buku karya H. Puang Palisuri ( 2005)  Perjanjian Bersaudara Sawitto dan Enrekang diterbitkan oleh Yapensi Jakarta.

Banjir dan Taubat Ekologis



Hujan dengan intensitas tinggi dan berlangsung beberapa hari mengguyur sejumlah wilayah di Sulawesi Selatan. Akibatnya beberapa kabupaten terdampak banjir cukup parah. Misalnya, Kabupaten Gowa, Maros, Pangkajene Kepulaun. Bahkan, Takalar, Jeneponto, Wajo, Soppeng, hingga Kota Makassar pun tak luput dari bencana tersebut. Sembari mendoakan warga yang menjadi korban di sana, mengirimkan bantuan sebisa kita, renungan kembali patut kita lakukan bersama.

Ya, bencana merupakan hal yang tidak bisa dihindari. Sebagai manusia, kita tidak punya kuasa untuk menolak malapetaka apalagi meminta sekalipun. Bila percaya kepada Tuhan, kita akan mendapati diri kita sebagai makhluk yang lemah dan berusaha mengambil hikmah dari setiap kejadian ini. Mengingat-ingat apa yang selama ini telah kita lakukan terhadap alam. Boleh jadi, itu teguran atas apa yang telah kita lakukan.

Banjir adalah salah satu dari sekian banyak bencana yang pernah menimpa manusia. Banjir disebabkan aliran air yang berlebih merendam daratan. Sumbernya bisa dari air sungai atau air pasang (laut). Di beberapa kabupaten tadi, penyebabnya lebih banyak dari meluapnya aliran sungai besar seperti Sungai Jeneberang di Kabupaten Gowa. Jika ditelusuri, ada saja kaitannya dengan masalah ekosistem.

Seperti yang disampaikan Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Sulsel, banjir yang terjadi salah satunya karena menurunnya kualitas lingkungan di daerah hulu dan hilir, alih fungsi hutan di daerah dataran tinggi sehingga erosi dan sedimentasi meningkat. Selain itu, di sepanjang daerah aliran sungai, banyak tambang galian dan batuan yang memicu pendangkalan sungai.

Pengrusakan hutan  juga diyakini oleh Gubernur Sulsel, Nurdin Abdullah sebagai penyebabnya. Lewat jalur udara ketika meninjau lokasi terdampak banjir, Nurdin Abdullah menyampaikan bahwa lahan di lereng Sungai Saddang sudah tandus karena perladangan liar. Praktis, ketidakseimbangan ekosistem inilah yang mesti diatasi ke depannya. Ada sebab dan akibat dari suatu peristiwa, mestinya kita lebih banyak menaruh perhatian terhadap pemicu (sebab), bukan merenungi akibatnya.

Tak pernah terpikirkan sedetikpun oleh penulis untuk menggurui. Kesadaran terhadap pelestarian lingkungan adalah bahan renungan bersama. Menjaga alam dengan tidak mengekploitasi secara berlebihan bisa memperkecil kemungkinan terjadi bencana di masa-masa mendatang. Penulis berusaha pula bertaubat, taubat ekologis. Tidak mengulangi kebiasaan membuang sampah sembarangan, mengacaukan keseimbangan alam yang sudah diatur Sang Pencipta. Memelihara hutan sebagai sumber keanekaragaman hayati adalah sebuah keharusan bersama.



Penulis : Musdin Musakkir
Sumber gambar : tribunnews.com

Nilai-Nilai Mataratte' dalam Budaya Enrekang


Perilaku peserta didik semakin hari semakin tidak terkendali. Sopan santun tidak lagi menjadi dasar untuk bergaul dan berinteraksi di sekolah. Sesama peserta didik hampir tidak lagi menghargai teman dan lawan bicaranya. Begitupun dengan hubungan kepada guru, tata krama sudah mulai dilupakan. Guru dianggap seperti teman sebaya sehingga tidak ada batasan dalam bertutur dan berdialog. Bahasa yang digunakan pun beragam dan lebih banyak menggunakan bahasa kasar dan jauh dari tuntunan adat kesopanan. Bahkan, perilaku peserta didik mulai menyentuh ranah kriminalitas.

Salah satu contoh yang pernah terjadi adalah kasus guru yang dianiaya oleh muridnya sendiri karena tidak terima ditegur ketika menggunakan telepon seluler saat jam pelajaran berlangsung. Peristiwa tersebut terjadi karena hilangnya nilai kesopanan.

Menurut Isma Naimatul Hani (2014), faktor utama hilangnya nilai kesopanan peserta didik adalah kurangnya pemahaman siswa terhadap budaya sopan santun yang harus dilakukan ketika bergaul. Pemahaman terhadap budaya sopan santun sebenarnya bisa dimulai dari lingkungan keluarga dimana orang tua sebagai pendidik di rumah memiliki peranan penting dalam mengajarkan anak-anaknya mengenai budaya sopan santun di masyarakat.

Zuriah (dalam Wahyudi, 2014) mengemukakan sopan santun adalah sikap dan perilaku yang tertib sesuai dengan adat istiadat atau norma-norma yang berlaku di masyarakat. Dengan memberikan pemahaman mengenai budaya sopan santun secara mendalam kepada anak-anak, perilaku sopan perlahan-lahan akan mengakar dan tercermin dalam kehidupan sehari-hari anak termasuk saat berinteraksi dengan teman atau gurunya di sekolah.

Faktor lain yang menyebabkan perilaku negatif siswa baik kepada temannya di sekolah ataupun guru adalah hilangnya kesadaran masyarakat untuk mempertahankan budaya dan norma-norma adat sebagai bagian dari sistem nilai. Sistem nilai tersebut termasuk mengenai hakikat hubungan manusia dengan sesamanya. Dalam hubungan secara horizontal tersebut, beberapa daerah memiliki ciri dan bentuk nilai tersendiri, salah satunya adalah nilai mataratte' dalam masyarakat Massenrempulu Kabupaten Enrekang yang memiliki pengertian sopan santun.

Usniaty (Kompasiana) memaknai mataratte' sebagai perilaku seseorang yang pandai membawa diri, atau seseorang yang tinggi nilai tata kramanya, istilah ini di katakan orangtua dahulu kala, bila melihat seseorang yang pandai membawa diri, mampu melakukan tata krama budaya sehari-hari dengan menunjukkan ketinggian budi kebaikan dan kebenaran akhlaqnya, itulah yang disebut orang yang mataratte, dan itu dicapai dari hasil pendidikan yang baik. Dari sini, pendidikan punya peran penting.

Salah satu cara untuk mengenalkan budaya kesopanan atau mataratte' kepada anak-anak dan generasi selanjutnya adalah dengan menggali kembali serta menyebarkan paham mengenai norma dalam bergaul dengan sesama manusia. Dengan memahami budaya dan nilai-nilai kesopanan yang berlaku di daerahnya, peserta didik akan memiliki filter dan kendali diri yang cukup untuk membendung tindakan-tindakan amoral.

Selanjutnya, adalah memupuk kesadaran budaya. Kesadaran budaya adalah sikap dimana seseorang mampu menghargai dan memahami adanya perbedaan didalam budaya tersebut. Kesadaran budaya sangat penting agar kita paham bahwa budaya yang ada di masyarakat itu sangatlah beragam. Dengan menanamkan kesadaran budaya, peserta didik akan mengontrol dirinya untuk tidak melakukan tindakan yang melanggar norma umum, termasuk sopan santun.

Selain orang tua, guru juga memiliki peran penting untuk memberikan pemahaman mengenai kebudayaan terhadap siswa. Guru harus hadir untuk memastikan seluruh peserta didik mendapatkan informasi tentang norma-norma bahkan pengetahuan tentang lintas budaya. Caranya adalah dengan mensosialisasikan nilai-nilai budaya lokal sehingga terbangun kesadaran budaya.

Upaya yang harus terus dilakukan adalah memasukkan nilai-nilai budaya lokal ke dalam kurikulum pendidikan. Langkah ini perlu agar generasi kita dapat membiasakan diri berinteraksi dan bersosialisasi dengan menjadikan budaya sebagai salah satu pijakannya. Selain itu, lembaga pendidikan nantinya tidak lagi direpotkan dengan adanya bias-bias budaya ditengah keberagaman yang muncul di sekolah dan masyarakat.

Penulis : Musdin Musakkir
*Beberapa referensi yang terkait definisi diantaranya:


[1] https://regional.kompas.com/read/2018/03/08/12274191/ditegur-karena-main-ponsel-di-kelas-murid-hajar-guru-dengan-kursi
[1]  Isma Naimatul Hani. Peningkatan pemahaman siswa tentang  Sopan santun melalui pelatihan  Role playing (Penelitian pada Siswa Kelas VIII SMP Negeri 1 Bandongan T.A. 2014/2015)
[3] Zuriah (dalam Wahyudi, 2014: 295)
[4] C. Kluckhohn / http://legalstudies71.blogspot.com/2016/04/sistem-nilai-budaya-pandangan-hidup-dan.html
[5] https://www.kompasiana.com/usniaty.s.i.kom/57e143f78223bd29068b456c/mataratte
[6] https://sosiologibudaya.wordpress.com/2012/03/01/budaya-dan-kesadaran-budaya/
[7] Mentari Oktaviana I.P , Andri Prasetiyo, Fajar Kharisma/ https://sosiologibudaya.wordpress.com/2012/03/01/budaya-dan-kesadaran-budaya/

Menyoal Rendahnya Minat Literasi Mahasiswa Enrekang



Saya mencoba menanggapi dingin soal mahasiswa Enrekang memiliki minat baca dan menulis yang dinilai minim, seperti mengiyakan bahwa hal ini memang fakta yang terbuka sejak lama. Pernyataan tersebut disampaikan pimpinan umum Suaramaspul di MataKita.co (10/1/2019), yang saya yakini punya niat baik untuk pengembangan litarasi di Kabupaten Enrekang ke depan. Namun, kenyataan akan nampak lebih menyedihkan bila kita tidak menaruh perhatian terhadap upaya pemecahannya.
Karena berkaitan dengan minat, bolehlah rasanya membahas lebih dulu soal pengertiannya, atau paling tidak hal yang terkait dengan minat. Ini perlu agar diperoleh pemahaman baru sebelum mencoba untuk sekedar menduga-duga. Minat menurut Sumadi Suryabrata (1988) adalah kecenderungan dalam diri individu untuk tertarik pada suatu objek atau menyenangi suatu objek. Dari sini, terdapat celah untuk dipahami bagaimana objek tersebut bisa dikaitkan dengan benda (buku). Sementara karakteristik minat menurut Bimo Walgito ada tiga, diantaranya; 1) menimbulkan sikap positif terhadap suatu objek, 2) adanya sesuatu yang menyenangkan yang timbul dari sesuatu objek itu, 3) mengandung suatu pengharapan yang menimbulkan keinginan atau gairah untuk mendapatkan sesuatu yang menjadi minatnya. Untuk bagian ini, gambaran yang diperoleh lebih terang lagi, mahasiswa Enrekang tidak tertarik pada suatu objek yang bernama buku.
Kesimpulan sementara tadi mendapat anggukan dari data yang entah berapa kali telah dipaparkan, ‘dari 1000 orang Indonesia, hanya 1 yang minat membaca’. Tentu saja dari sekian banyak orang yang “ogah” membaca itu terdapat mahasiswa di dalamnya. Rasanya sungguh memalukan berada di deretan objek survey tersebut.
Permasalahan yang berkembang terkait rendahnya minat dalam membaca dan menulis adalah karena membaca dan menulis belum dianggap sebagai bagian dari peran dan tugas mahasiswa. Padahal, untuk memperkuat peran mahasiswa sebagai pembelajar tentu butuh banyak membaca. Sementara dalam menyampaikan gagasan, salah satu caranya dengan jalan menulis. Selain itu, beralihnya media dari bentuk fisik ke digital juga menjadi penyebab yang sulit dihindari. Bahkan, media audio-visual lebih menarik untuk dinikmati ketimbang membuka lembaran-lembaran buku.
Memang mengajak mahasiswa membaca ibarat memberi makan orang lapar tapi tidak berselera menyantap makanan yang dihidangkan. Mahasiswa memang selalu lapar. Butuh asupan ide-ide dan gagasan. Dalam kehidupan kampus, beragam menu tersedia. Aroma teori-teori, hipotesis-hipotesis dan karya ilmiah menggugah selera. Bila nafsu makan berkurang, butuh sedikit upaya untuk menambah cita rasa masakan. Tentu saja, paparan ini bertujuan agar mahasiswa tidak hanya bisa dikenyangkan dengan “makanan otak” tadi tetapi bisa membuat masakan sendiri dengan rasa yang berbeda dan lezat (menulis).
Beruntung ditengah minimnya kesadaran ber-literasi mahasiswa Enrekang, masih banyak pihak yang menaruh perhatian dan mencoba tetap memberikan sumbangsih pemikiran. Harapan itu ada ditandai dengan upaya-upaya pemasyarakatan minat baca oleh komunitas-komunitas yang peduli terhadap generasi Enrekang. Pemerintah Enrekang melalui Dinas Perpustakaan dan Kearsipan terus berinovasi agar lebih banyak lagi yang melek baca dan menjadikan ruang perpustakaan sebagai wahana intelektual. Media online pun mulai mengambil peran dengan memberikan ruang seluas-luasnya bagi mahasiswa atau pelajar yang ingin menuangkan gagasannya lewat tulisan. Untuk beberapa usaha tersebut, butuh kesabaran dan kerjasama dari semua pihak. Semoga hasilnya menggembirakan!

Karena Ustaz Juga Manusia


Kehilangan orang yang paling disayangi memang sungguh berat dan amat memilukan jiwa. Terlebih orang yang meninggalkan kita adalah pendamping hidup yang sekian lama telah melewati suka duka, menjalani pahit getir kehidupan bersama. Kesedihan, -bagaimanapun disembunyikan- tetap saja tergambar di wajah. Siapapun, sehebat dan sekuat apapun kita, karena sedih adalah manusiawi, orang-orang di sekitar mesti memaklumi. Bahkan walau yang kehilangan itu adalah seorang Ustaz. 

Ahad, 20 Januari mungkin adalah hari memilukan bagi Ustaz Maulana, penceramah kondang yang saban hari mengisi kajian keagamaan di salah satu televisi swasta nasional. Istri tercinta meninggal dunia dengan riwayat penyakit yang telah diderita beberapa tahun lalu. Sebagai Ustaz, beliau tetaplah manusia biasa yang ketika kehilangan akan merasakan duka lara. Tak terhitung berapa banyak orang yang termotivasi, tersentuh oleh ceramah beliau. Jemaah yang sedih, jadi gembira. Mereka yang gundah, jadi semangat. Ada yang ditinggal mati keluarganya perlahan menjadi kuat dan sabar. Namun, apa yang dialami jemaah itu tidak mustahil akan dialami pula oleh beliau. Beliau bisa saja berduka, sedih atau bahkan menangis sekalipun. Tetapi, itu semua adalah bagian dari respon manusia. 

Menurut Schulz (1978), ada tiga tahapan dari proses berduka, yaitu fase awal dimana seseorang menunjukkan reaksi syok, tidak yakin, tidak percaya, perasaan dingin, perasaan kebal, dan bingung. Perasaan tersebut bisa saja berlangsung beberapa hari dan memungkinkan individu tersebut kembali pada perasaan berduka berlebihan. Fase pertengahan, dimulai pada minggu ketiga dengan ditandai adanya peilaku obsesif. Perilaku yang dimaksud adalah terus mengulang-ulang peristiwa kehilangan yang terjadi. Ketiga, adalah fase pemulihan. Di fase ini, individu mulai memutuskan untuk tidak (larut) mengenang masa lalu dan berusaha untuk tetap melanjutkan kehidupannya, berpartisipasi dalam kegiatan sosial. 

Sebagai guru, pendakwah, pembimbing spiritual, kita yakin beliau akan mampu melewati tahapan sebagaimana yang dikemukakan Schul di atas. Paling tidak, ada pelajaran berharga untuk kita ambil seperti, melatih diri untuk tetap bersabar dalam setiap keadaan. Menganggap segala musibah bisa saja menimpa diri kita, tanpa kenal waktu dan keadaan. Tetap bergaul, bersosialisasi dan berbagi kebahagiaan dengan orang-orang terdekat lainnya juga bisa menjadi penyembuh duka.

(mm)
Powered by Blogger.

Terpopuler

Kategori